Sudah Adilkah?

merenung-sudah-adilkahHari minggu 15 Februari 2015 kemarin saya terpaksa dibawa ke UGD RS Karya Bhakti Pratiwi, Bogor. Penyebabnya? Entah mengapa saya ngerasa fisik ngedrop banget. Memang, saya baru tidur jam 3 pagi dan bangun sekitar jam 5 pagi. Sebetulnya ketika bangun saya sudah merasa ada sesuatu yang ga beres dengan tubuh saya. Detak jantung terasa begitu cepat dan nafas menjadi tidak teratur, persis seperti orang baru beres olahraga. Berhubung jam 6 ada liqo yang harus saya hadiri saya paksakan diri untuk hadiri liqo.

Sepulang liqo jam 9, detak jantung masih terasa belum normal, seperti tidak ada perubahan dibandingkan dengan saat pagi hari. Saya berasumsi mungkin karena belum tidur lagi sehabis begadang. Akhirnya saya putuskan untuk rebahan di kamar hingga akhirnya saya tertidur hingga waktu zuhur tiba. Saya terbangun karena teringat bahwa jam 1 siang ada pengajian yang wajib saya hadiri. Tapi entah mengapa, detak jantung terasa semakin cepat dan badan semakin lemas, belum lagi nafas makin berat. Akhirnya saya hubungi kakak saya dengan maksud agar memberitahu ayah untuk datang kerumah menggunakan mobil. Saya meminta untuk diantar ke dokter langganan almarhumah mamah.

Jujur saja, disaat itu saya sempat berfikir, bagaimana bila jantung saya bekerja terlalu keras dan kemudian tiba-tiba berhenti? Sekelebat terlintas dipikiran saya memori ketika almarhumah mamah masih di rawat di ruang HCU. Saat itu dokter HCU pun berkata kurang lebih sama. Ada kemungkinan penyerapan oksigen mamah yang rendah disebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga mengakibatkan jantung harus bekerja ekstra keras. Tidak menutup kemungkinan jantung mamah akan berhenti mendadak.

Akhirnya jam setengah satu siang Bapak dan Kakak datang. Berhubung kondisi yang tidak memungkinkan akhirnya saya dibawa ke dokter di dekat rumah. Namun setelah memeriksa saya, dokter pun menyarankan agar saya segera dibawa ke rumah sakit untuk di observasi lebih lanjut dan mendapatkan penanganan terutama oksigen karena nafas saya yang berat.

Setelah dibawa ke UGD dan ditangani oleh dokter, disimpulkan bahwa saya hanya kecapean, namun bukan berarti hal yang sepele. Bila kelelahan pada badan terus terakumulasi bukan tidak mungkin akan berakibat fatal bagi tubuh saya kelak. Meskipun hasil pemeriksaan EKG menunjukkan jantung saya masih dalam keadaan baik, bukan berarti saya akan selalu baik-baik saja bila tidak merubah pola hidup. Dokter menyarankan agar saya mengubah pola hidup, beristirahat yang cukup, banyak berolahraga, dan mendapat asupan gizi yang cukup.

Peristiwa ini menyadarkan saya, apakah selama ini saya sudah adil terhadap tubuh yang telah Allah amanahkan terhadap saya? Apakah justru selama ini saya tidak amanah atau bahkan zholim? Sejenak saya teringat tentang pembahasan Qadha dan Qadar saat halqoh dulu. Kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas qadha kita. Allah hanya akan meminta pertanggungjawaban atas hal-hal yang dalam area kuasa kita.

Ketika SMA dulu, guru PAI pernah menjelaskan sedikit tentang salah satu makna adil. Termasuk ke dalam makna adil adalah menempatkan segala sesuatu sebagai mana fungsinya. Jangan-jangan selama ini saya tidak adil karena memaksakan tubuh ini untuk terus bekerja dimalam hari padahal malam diciptakan Allah sebagai waktu untuk istrirahat kita.

Astaghfirullah…

Cukuplah rangkaian peristiwa ini menjadi pengingat saya untuk belajar adil dan amanah terhadap tubuh yang dititipkan Allah pada saya. Ajal saya adalah Qadha, dan Allah tidak akan meminta pertanggungjawaban saya. Akan tetapi apa yang saya berikan untuk tubuh ini adalah sesuatu yang kelak akan Allah minta pertanggungjawabannya dari saya.

Wallahu a’lam bish-shawab

Leave a Reply