Sedikit Catatan Bisnis di 2015

Pagi ini entah kenapa tiba-tiba ada dorongan lagi untuk membuat tulisan di blog. Ga kerasa udah beberapa bulan ga nge-update isi blog. Jujur memang sejak terakhir ngeblog 31 Oktober 2015 lalu, hampir ga punya waktu luang untuk sekedar bikin tulisan sederhana sebagai isi blog. Bukannya sok sibuk, tapi asli, baru kali ini ngerasain fokus di bisnis bener-bener membuat hidup hanya berputar disitu saja.

13-stay-focused

Alhamdulillah, 2015 menjadi tahun penuh ‘rasa’ untuk saya dan istri. Diawali dengan duka dengan kembalinya Mama tercinta kehadapan Allah swt., dilanjut dengan bulak-balik rumah sakit, ditambah lagi bisnis yang sempoyongan hingga nyaris kolaps. Sempat terlintas dalam fikiran, apakah bisnis yang dijalankan masih layak untuk dipertahankan? Mengingat rasanya sudah berbagai upaya dilakukan demi memperbaiki kinerja pemasaran dan keuangan bisnis namun hasil yang diperoleh ga kunjung sesuai harapan.

Saya dan istri bersyukur bisa diperkenalkan dengan sahabat-sahabat dan guru-guru yang begitu luar biasa. Kesempatan dari Allah swt., yang tidak jarang lupa untuk kita syukuri. Disebuah kesempatan saya ‘curhat’ kepada seorang teman yang saya tuakan dan begitu saya hormati, Om Guguh, owner Saung Sop Buah Pak Ewok Bogor, tentang kondisi bisnis saya yang “gitu-gitu aja”. Sampai akhirnya Om Guguh menyarankan saya untuk mengikuti sesi Business Diagnosa dengan Coach Bisnis yang membimbing beliau saat ini.

Singkat kata, pada hari ketiga Ramadhan 1436 H (lupa tanggal masehinya), saya dan istri berkesempatan untuk mengikuti sesi Business Diagnosa dengan kedua Coach, yakni Coach Dania Setiabudi dan Coach Edwin Indarto. Banyak hal ditanyakan dan digali dari bisnis yang kami jalani, hingga pada akhir sesi sebelum pulang beliau berdua memberikan “pekerjaan rumah” untuk kami berdua, yaitu: (sebetulnya PR nya banyak, tapi yang inget saat nulis ini cuma 2 :p)

  1. Berikan perhatian kepada mitra bisnis. Mitra bisnis juga merupakan konsumen produk kita dan konsumen kita tidak lain adalah gambaran lain dari diri kita.
  2. Coba strategi gerilya untuk menghadapi kompetitor. Belajar dari Jenderal Sudirman yang menggunakan strategi gerilya ini untuk memberikan perlawanan yang seimbang sekalipun dengan kekuatan yang jauh lebih kecil.

Sebenernya kami juga ditawari untuk ikut Business Coaching dan jelas kami sangat tertarik mengingat sesi Business Diagnosa yang singkat gitu aja udah membuka banyak hal dan memberikan banyak insight untuk bisnis kami. Om Guguh juga mendorong kami untuk segera ikut. Namun melihat kondisi keuangan yang hampir semaput, kami belum berani untuk mengambil keputusan untuk segera ikut Business Coaching.

Selesai Business Diagnosa kami kembali menjalani bisnis dengan semangat baru. Fokus kami saat itu adalah membenahi bisnis dan kondisi keuangan (bisnis dan pribadi) yang kembang kempis. Terlebih lagi saat itu ada beban hutang untuk membiayai perawatan (almh) Mama saat di rumah sakit yang tidak sedikit dan terasa begitu menyesakkan untuk saat itu.

Kami yang tadinya jualan macem-macem (dengan alasan nambah sumber penghasilan untuk support kondisi keuangan) akhirnya memutuskan untuk stop dan fokus pada produk sendiri. Mitra-mitra bisnis kembali kami rangkul, kami bantu, bahkan bisa dibilang kami “suapi” agar bisa kembali meningkatkan omset penjualannya. Beberapa strategi gerilya kami lakukan dan Alhamdulillah memberikan tingkat keberhasilan yang sangat memuaskan.

Di sisi lain, saya yang tadinya tidak fokus (karena main di Adsense juga dan Affiliate Marketing) akhirnya memutuskan untuk fokus mengurusi bisnis dan kini hasilnya begitu luar biasa. Saya dan istri sering mengenang kembali kondisi 5 bulan pertama di 2015 yang begitu “mengharukan” dan berniat agar kondisi tersebut tidak terulang kembali.

Alhamdulillah ya Allah, aku bersyukur padaMu, Engkau telah memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan hamba-hambaMu yang shalih, yang telah menunjukkan kekeliruanku dan membimbingku untuk memperbaiki diri.

Leave a Reply