25 Tahun Bersama Mamah

15519_10203736646039036_494550436769282367_nTidak terasa sudah 6 hari berlalu. 27 Januari 2015 menjadi salah satu momen bersejarah bagi saya dan semua anggota keluarga. Pada tanggal tersebut Allah swt memanggil Mamah tercinta untuk kembali menghadapnya. Ya, diusia ke 25 ini saya menjadi seorang anak Piatu.

Mamah wafat setelah 2 minggu berjuang melawan sakit yang diderita. Selama 2 minggu pula Mamah harus berada di rumah sakit, 1 minggu di ruang perawatan biasa, dan 1 minggu terakhir diruang perawatan intensif (HCU/High Care Unit). Awalnya Mamah terkena Demam Berdarah sehingga pada tanggal 14 Januari 2015 Mamah harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan segera. Selama seminggu pertama Mamah sempat mengalami drop hingga dokter terpaksa harus mengambil tindakan bahwa Mamah harus transfusi trombost sebanyak 2x dengan total 27 kantong.

Senin 19 Januari 2015 sebenarnya kondisi Mamah sudah berangsur membaik bila dilihat dari hasil tes darah. Pun hasil tes darah terakhir pada 20 Januari 2015 dini hari menunjukkan bahwa kondisi trombosit Mamah sudah mengalami kenaikan cukup signifikan. Namun apa daya, Allah memberikan cobaan untuk Mamah dan kami semua. Pagi hari 20 Januari 2015 tiba-tiba Mamah mengalami kejang yang hebat. Kondisi tersebut membuat dokter yang menangani Mamah memutuskan untuk memindahkan Mamah ke ruang HCU. Seketika optimisme yang sempat muncul seakan dihempaskan ke bawah dan membuat kami tersadar bahwa skenario manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan kuasa Allah.

Melihat kondisi awal Mamah di HCU begitu menyayat hati. Mana ada anak yang tidak bersedih melihat ibunda tercinta yang telah merawat dan membesarkannya sepenuh hati kini tergolek lemah tak sadarkan diri di ruang HCU dan dipasangi berbagai macam alat penunjang hidup. Ya Allah…. meleleh air mata ini seketika saat melihat kondisi Mamah. Pada saat itu, saya menyadari bahwa cepat atau lambat saya harus menyiapkan diri. Apa yang telah terjadi dan akan terjadi pada Mamah adalah Qadha Allah untuk Mamah dan itu tidak bisa ditolak. Saya tersadarkan, ini bukanlah masalah siap atau tidak, menerima atau menolak, bukan. Ini adalah masalah sabar dan ikhlas.

Diagnosa awal dokter virus DB yang menjangkiti Mamah tergolong ganas sehingga sekalipun DB nya sudah sembuh namun virusnya telah merusak berbagai organ dalam Mamah. Kejang yang terjadi pada Mamah mengindikasikan bahwa virus menyerang otak Mamah. Kondisi badan Mamah (terutama mata) menguning, menunjukkan bahwa fungsi hati Mamah pun mengalami gangguan. Gula darah Mamah juga tiba-tiba meningkat dan susah dikontrol diduga pankreas Mamah pun ikut terganggu. Terakhir, saturasi paru-paru Mamah pun dibawah normal seakan memperlihatkan bahwa paru-paru Mamah ikut terkena dampak merusak si virus. Dan benar saja, hasil rontgen dan CT Scan memperkuat semua dugaan itu. Namun tim dokter menyemangati kami dan mengatakan bahwa mereka optimis bisa menangani ini karena kasus ini bukanlah yang pertama untuk mereka.

Hari ke 2 Mamah mulai sadar dan mulai menunjukkan progres positif. Bahkan hari-hari selanjutnya Mamah sudah bisa berinteraksi dengan kami meskipun melalui isyarat bibir atau dengan menuliskan sesuatu di punggung tangan kami melalui jarinya yang lemah. Jujur, pada saat itu melihat kondisi Mamah saya pribadi optimis bahwa Mamah bisa sembuh dan kembali berkumpul bersama kami. Biaya pengobatan Mamah membengkak dan membuat kami semua harus mencari dan mencoba berbagai cara untuk memenuhinya. Berat memang, namun kami sudah sepakat untuk berupaya semaksimal mungkin mempertaruhkan semua yang kami punya untuk kesembuhan Mamah. Bagaimanapun saya dan kedua kakak menjadi saksi hidup bagaimana Bapak dan Mamah berkorban banyak hal untuk memberikan yang terbaik bagi kami, terutama dalam hal pendidikan kami. Kedua orang tua kami berpandangan bila memang untuk membuat anaknya bisa mendapatkan pendidikan terbaik hanya mungkin dengan berhutang seumur hidup, maka itu yang akan ditempuh. Mana mungkin kami bisa tega membiarkan Mamah tidak mendapatkan perawatan yang terbaik.

Kondisi Mamah yang semakin baik membuat kami semua optimis Mamah akan segera sembuh dan keluar dari ruang HCU. Tetapi sekalilagi keyakinan kami diuji oleh Allah. 26 Januari 2015 kondisi Mamah tiba-tiba drop. Saturasi paru-paru Mamah yang sebelumnya sempat membaik kini menurun lagi. Tensi dan denyut jantung Mamah pun mengalami masalah. 27 Januari 2015 pukul 03.00 WIB pihak rumah sakit menghubungi kakak perempuan saya yang memang sedari awal selalu mendampingi Mamah dan mengabarkan bahwa kondisi Mamah memburuk sehingga tim dokter harus membuat Mamah tidak sadar.

Sore hari pada jam besuk kedua dihari yang sama, kami semua berkumpul, saya, kedua kakak, dan ayah. Kami semua ingin melihat kondisi Mamah. Pukul 19.00 WIB air mata ini kembali menetes melihat kondisi Mamah yang tidak sadar dan terlihat begitu lemah. Layar monitor memperlihatkan saturasi paru-paru Mamah turun hingga di bawah batas toleransi. Dokter jaga menyampaikan kepada kami bahwa secara medis kondisi Mamah hampir bisa dipastikan tidak akan bertahan lama namun tim dokter dan perawat akan berusaha memberikan yang terbaik. Namun dokter mengatakan, bila kondisi Mamah terus menurun apakah keluarga mengijinkan dokter untuk mengambil tindakan medis (kejut jantung) atau akan mengikhlaskan Mamah.

Akhirnya Bapak mengambil keputusan untuk mengikhlaskan Mamah bila memang kondisinya terus menurun. Bukan, bukan karena Bapak tidak sayang Mamah. Keputusan itu justru karena cinta Bapak yang begitu besar pada Mamah. Bapak tidak ingin Mamah tersiksa atau mengalami sakit dalam kondisinya saat itu dengan sengatan listrik di dadanya. Sedih, tapi kami terima dan memahami putusan Bapak dan kami setuju dengan alasan Bapak.

Dokter kemudian meminta kami untuk menandatangani penolakan pengambilan tindakan medis terhadap Mamah sebagaimana telah dijelaskan. Dokter pun mengatakan kami akan dipanggil bila kondisi Mamah trus drop. Saat itu sekitar pukul 8 malam dan detik-detik yang berlalu merupakan saat-saat paling tidak nyaman dalam hidup. Benar saja, sekitar pukul 22.15 WIB seorang perawat membuka pintu ruang HCU dan mengatakan bahwa keluarga dipersilahkan masuk untuk mendoakan Mamah. Ya Allah…. detik-detik terakhir bersama Mamah.

Saya menjadi yang pertama mengucapkan dua syahadah ditelinga Mamah dan meminta maaf pada Mamah dengan harapan dalam bawah sadarnya Mamah pun bisa mengucap dua syahadah. Kemudian dilanjutkan kakak nomor 2 (laki-laki) dan terakhir kakak perempuan saya. Setelah ia mengucapkan dua kalimat syahadah dan meminta maaf pada Mamah, Allah pun memanggil Mamah. Deg… seakan tidak percaya. Di depan mata kami, kami harus melihat layar monitor tidak lagi menunjukkan detak jantung Mamah. Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun…. Satu persatu kami lunglai serasa tubuh ini tidak bertulang. Bapak coba menenangkan kami. Bapak terlihat lebih siap dan tegar. Bapak berbisik pelan ditelinga Mamah dan kemudian mengecup kening Mamah sembari mengatakan, “Selamat jalan Adinda”.

Ya Allah… Engkau telah memanggil Ibunda kami tercinta untuk kembali menghadapmu. Ampunilah segala dosa dan kesalahannya, terimalah taubat dan amal sholihnya.

25 tahun 9 bulan saya hidup bersama Mamah. 25 tahun 9 bulan saya merasakan langsung kasih sayang Mamah. Tapi selamanya saya akan jadi anak Mamah dan tidak akan pernah malu dengan sebutan “Anak Mamah”.

We will always love you Mamah

Catatan mengenang Mamah tercinta

Endang Purwanti binti Sulaeman

31 Desember 1961 –  27 Januari 2015

Leave a Reply